Laman

Jumat, 05 Desember 2014

Mendapatkan Profit Dari Si Kecil, Kenapa Tidak ?

Butuh Uang Cepat
Anak bagaikan intan permata bagi kedua orangtuanya. Jika diasah secantik mungkin, nilainya pun menjadi tiada tara. Tak heran, jika kebanyakan orangtua akan memberikan segala sesuatunya sebaik mungkin, demi masa depan si buah hati.

Mereka akan mengajak sang anak untuk mengikuti berbagai aktivitas yang menyenangkan sedini mungkin. Sebab, kegiatan menyenangkan inilah yang menjadi perangsang bagi tumbuh kembang anak, tak terkecuali kegiatan memasak.

Menurut Joyce Thedjasurya, pendiri Koki Kecilku, aktivitas memasak bagi anak-anak bisa menstimulasi hampir semua aspek, baik motorik dan kognitif, yang mendukung tumbuh kembang anak. “Misalnya, koordinasi mata dan tangan saat memotong bahan-bahan yang kecil. Kreativitas dengan menghias. Atau, matematika saat menimbang atau menjumlahkan dan lainnya,” ujar Joyce.

Apalagi, memasak merupakan hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka bisa mendapat pengalaman dan pencapaian baru dengan masakan yang dibuat. “Pencapaian ini bisa meningkatkan rasa percaya diri si anak, yang akan berdampak terhadap kehidupan sehari-hari,” tutur Joyce.

Lantaran tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak, Joyce menyelenggarakan kelas memasak bagi anak-anak. Awalnya, dia menggandeng kerjasama dengan klinik tumbuh kembang anak di Serpong, Tangerang, karena memiliki fokus dan tujuan yang sama untuk anak-anak. Dia pun membangun dapur Koki Kecilku menjadi bagian dari klinik tersebut pada 2012.

Kini, Joyce sudah membuka kelas Koki Kecilku di sejumlah tempat di Jakarta. “Kami juga menerima permintaan dari sekolah atau kelompok bermain di Jakarta,” kata dia.

Koki Kecilku menyelenggarakan kelas memasak khusus untuk anak-anak, dari rentang usia 3 tahun hingga 12 tahun. Joyce membagi dua level kelas kursus memasak berdasarkan umurnya, yakni untuk umur 3 tahun–5 tahun dan 6 tahun–12 tahun, agar setiap anak mendapatkan stimulasi sesuai dengan tumbuh kembangnya.

Karena itu, Joyce juga menyusun kurikulum kelas memasak agar setiap kegiatan sesuai dengan kebutuhan anak. “Kurikulum tumbuh kembang inilah yang menjadi nilai lebih usaha kami,” ujar dia. Selain itu, Koki Kecilku menawarkan berbagai variasi menu yang diajarkan, mulai menu masakan khas Italia, Prancis, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Tentu saja, semua kegiatan memasak dan bahan-bahan yang diolah disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas anak-anak. “Misalnya, memotong bawang bombai. Kami sudah mengiris dalam bentuk panjang, anak-anak tinggal memotongnya menjadi bentuk yang lebih kecil,” ujar dia.

Dalam setiap kelasnya, Koki Kecilku membatasi peserta hanya 10 anak, dengan pengawasan dua orang instruktur. Ini dilakukan supaya instruktur bisa memberikan perhatian penuh.

Dari sejak berdiri hingga saat ini, sudah lebih dari 300 anak yang menjadi member Koki Kecilku. Namun, rata-rata siswa yang aktif mengikuti kursus berkisar 50 anak setiap bulan. Biaya kursus memasak untuk tiap anak adalah Rp 600.000 per modul. Setiap modul terdiri dari empat pertemuan dalam sebulan, dengan uang pendaftaran (membership) berkisar Rp 150.000–Rp 350.000.

Tak jauh berbeda, lantaran punya kepedulian terhadap perkembangan kemandirian anak, Fuji Astuty mendirikan Dapur Anak pada 2008. Fuji yang pernah bekerja di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta ini memang mencium adanya peluang untuk berbisnis kursus masak untuk anak-anak. Ketika bertugas di area Kids Club di hotel tempat ia bekerja, Fuji melihat semaraknya anak-anak mengikuti kegiatan cooking class. “Namun, waktu itu, yang ikut adalah anak-anak ekspatriat. Nah, saya ingin anak-anak Indonesia pun bisa seperti mereka: kreatif, mandiri, dan ekspresif,” jelas dia.

Sedikit berbeda dengan Koki Kecilku, Dapur Anak memasang target siswa anak-anak mulai dari usia 6 tahun hingga 13 tahun. Selain kelas anak, mereka juga menyediakan kelas bagi remaja yang berusia 13 tahun hingga 15 tahun. “Khusus kelas ini mempelajari teknik masak tertentu,” jelas dia.

Biaya untuk mengikuti paket kursus Dapur Anak berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,2 juta. Paket kelas masak ini terdiri dari empat kali pertemuan dengan tiga menu, mulai appetizer, main course, dan dessert atau snack meals. Dalam setiap paket, siswa mendapatkan seragam, sertifikat, member card dan menu binder.
Jika tidak ingin tergabung dalam paket, Dapur Anak juga menawarkan program satu hari. Namun, di sini, peserta tak mendapatkan sertifikat, menu dalam binder dan seragam.

Jumlah siswa yang mengikuti kelas Dapur Anak berkisar 25 anak hingga 40 anak setiap bulannya. “Rata-rata anak didik kami, sekitar 60%, akan mengikuti kelas yang berikutnya,” kata Fuji. Saban bulan, Dapur Anak pun bisa mengumpulkan omzet Rp 20 juta hingga Rp 30 juta dengan margin keuntungan hingga 40%.

Apakah Anda tertarik untuk membangun bisnis serupa? Fuji menyebutkan, bisnis kursus masak ini menyimpan prospek bagus seiring perubahan pemikiran orangtua terhadap pentingnya kegiatan yang menyenangkan bagi pertumbuhan buah hatinya. Bisnis ini juga terbantu oleh tren media di sini menyiarkan cooking show.

Senada, Joyce pun mengatakan, banyak permintaan untuk pembukaan Koki Kecilku dari kota-kota besar di Indonesia. “Mereka minta kami buka cabang atau waralaba,” ujar dia.

Tertarik anak-anak
Satu modal penting bagi Anda yang tertarik untuk membuka kursus masak anak-anak ini adalah memiliki ketertarikan dan kesabaran terhadap anak-anak. Maklum, dalam melakukan kegiatan, anak-anak masih lekat dengan mood. “Jadi, harus punya passion karena kendalanya adalah mood anak-anak. Seringkali mereka kurang bersemangat hanya karena sedang mengantuk,” jelas Joyce.

Setelah itu, tentu Anda harus memiliki dapur sebagai tempat penyelenggaraan kursus. Pembangunan dapur ini juga sebaiknya sesuai dengan anak-anak, baik dari kenyamanan ruangan maupun peralatannya.

Untuk menghemat modal, Anda juga bisa menyewa ruangan sebagai dapur. Seperti Dapur Anak yang pada awalnya menyewa sebuah ruangan. “Pada dasarnya kami menyewa kelas, lalu melakukan kegiatan ini bekerjasama dengan tempat yang berkaitan dengan food and beverage, seperti restoran dan tempat bermain anak-anak,” jelas Fuji.

Untuk peralatan memasaknya, faktor keamanan menjadi pertimbangan utama. Seperti penggunaan kompor listrik (induksi) untuk menghindari api dan panas. Alat pemotong, seperti pisau dan gunting, juga disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan anak-anak. “Biasanya kami memakai pisau khusus, berbahan plastik yang tidak tajam dan food grade,” kata Joyce. Pemilihan alat memasak yang berwarna ceria juga menjadi pertimbangan untuk meningkatkan minat anak.

Pembelian peralatan dan perlengkapan untuk dapur ini menjadi pengeluaran terbesar dari modal. Sebab, bukan cuma peralatan yang dipakai oleh anak-anak, pemilik kursus masak juga harus melengkapi dapurnya dengan perkakas lain, seperti blender, oven, mixer. Selain itu, dapur harus memiliki kulkas, tempat menyimpan berbagai bahan masakan.

Fuji menaksir, modal untuk membangun usaha ini bisa mencapai Rp 300 juta. “Tentu saja, besar kecil modal ini bisa disesuaikan dengan pilihan kenyamanan kelas dan ukuran ruangan,” terang dia. Sementara itu,  Joyce mengakui, pengeluaran terbesarnya ketika merintis bisnis adalah untuk membeli perkakas dan peralatan.
Biarpun kursus ini menjadi bagian aktivitas yang menyenangkan, bukan berarti meniadakan konsep yang matang. Untuk menarik minat orangtua, sebaiknya Anda menyiapkan kurikulum atau program semenarik mungkin.

Berdasar pengalaman Joyce, banyak orangtua tertarik pada Koki Kecilku setelah melihat kurikulum yang ditawarkan. Tak main-main, kurikulum Koki Kecilku disusun oleh profesional spesialis edukasi.
Selain itu, kreativitas juga dibutuhkan untuk menemukan menu-menu masakan baru. Maklum, menu-menu masakan dalam setiap paket selalu berbeda. “Menu kami tidak berulang, berbeda setiap tahunnya,” kata Joyce. Sebaiknya, Anda juga menggunakan bahan-bahan makanan yang aman untuk anak-anak, misalnya, tanpa MSG atau pengawet.

Karena menggunakan bahan-bahan makanan yang berkualitas baik, biaya kursus masak lebih tinggi daripada kursus lainnya. “Ini menjadi kendala, apalagi jika bahan-bahan makanan ini mengalami kenaikan harga,’ kata Fuji.

Sebagai pendamping, Anda juga harus menyeleksi para instruktur untuk kursus masak anak-anak. Pertimbangan utama dalam memilih instruktur adalah menilai tingkat ketertarikan dan kesabaran mereka saat menghadapi anak-anak. Joyce bilang, untuk bisa memberi perhatian terhadap anak secara maksimal, dia memilih mereka yang bergelar sarjana psikologi sebagai instruktur.

Setelah semuanya siap, Anda pun bisa mulai ke tahap promosi. Selain memperkenalkan melalui website, Anda juga bisa mengikuti beberapa acara. “Saat berdiri, Dapur Anak rajin mengikuti acara di aneka perusahaan dan sekolah untuk memperkenalkan program kami,” kata Fuji.
Anda gemar masak dan suka anak-anak? Tunggu apa lagi?

Edukasi pasar dengan rajin menggelar acara
Di Indonesia, kursus memasak memang belum sepopuler kursus-kursus yang menggali minat dan keterampilan anak-anak lainnya. Ambil contoh, kursus di bidang musik atau kursus olah tubuh, seperti menari dan balet. Alhasil, kursus memasak seringkali banyak diminati hanya pada saat-saat libur sekolah, sebagai pengisi kegiatan anak di waktu luang.

Hal itu terlihat dari ramainya peserta yang mendaftar ketika liburan tiba. Bahkan, Joyce Thedjasurya, pemilik Koki Kecilku, bilang, peserta kursus bisa berlipat hingga dua kalinya pada masa-masa liburan sekolah. Itu sebabnya, dia kerap menambah frekuensi penyelenggaran kursus memasak menyambut liburan. “Bahkan, kami juga pernah menolak calon peserta karena sudah tidak ada tempat lagi,” kata Joyce. Maklum, dia membatasi peserta tiap kelas hingga 10 anak.

Kondisi ini jelas berbeda di luar negeri. Fuji Astuty, pemilik Dapur Anak, bilang, di luar negeri program seperti ini sudah sejajar dengan kursus-kursus lainnya. Menengok pengalamannya, pada awalnya program memasak ini sangat sulit diterima orangtua. “Rata-rata peminatnya adalah sekolah yang berbasis
internasional, karena dalam program mereka, program cooking class adalah salah satunya,” jelas dia.

Oleh karena itu, penting bagi pemain bisnis ini untuk terus mengedukasi pasar. “Orangtua yang perlu tahu program memasak adalah penting untuk anak ke depan, mengingat memasak adalah bagian dari kemandirian manusia. Jadi, ada baiknya mengkomunikasikan bahwa kursus masak ini harus berkesinambungan dalam praktiknya,” kata Fuji.

Salah satu caranya, yakni dengan rajin menyelenggarakan event memasak. Selain untuk memperkenalkan kepada anak bahwa memasak itu adalah mudah dan menyenangkan, melalui event Anda juga bisa memperkenalkan program-program dalam kursus memasak. “Di event itu, kita bisa mengundang anggota untuk mengikut lomba,” tutur Joyce.

Penyelenggaraan event bisa dilakukan dengan kerjasama perusahaan produk bahan makanan. Semisal, produk cokelat, sereal, dan lainnya. Di luar itu, untuk menggenjot pemasukan, Anda juga bisa berkreasi dengan menawarkan aktivitas memasak pada acara ulangtahun, acara kumpul-kumpul karyawan perusahaan, maupun peluncuran produk.       

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com