Laman

Selamat Datang di OmahBloggerIndonesia.Com

Omah Blogger Indonesia adalah Komunitas Nirlaba yang memberikan Pendidikan dan Pelatihan IT Gratis kepada Masyarakat Umum, serta Pendampingan Usaha bagi UMKM.

Omah Blogger Indonesia

Adalah media untuk mempertemukan antara Pelaku Usaha skala UMKM, baik yang sudah berjalan ataupun yang baru memiliki ide usaha dengan Pihak Pendana, baik Perorangan, CSR dan Lembaga dalam bentuk investasi, bantuan ataupun hibah.

Omah Blogger Indonesia

Memfasilitasi segala usaha dan ide usaha dari perorangan atau kelompok untuk semua bidang usaha dan kegiatan. Dari bidang agro, kerajinan, kesenian, pembuatan film, perdagangan, dll.

Omah Blogger Indonesia

Mengajak para investor, pemilik modal, CSR, dan berbagai pihak, baik individu atau institusi yang peduli kemajuan Bangsa Indonesia untuk membangun dan menumbuhkan ekonomi dari sektor UMKM. Karena pilar ekonomi bangsa adalah dari sektor riil yang ditumbuhkan dari UMKM yang terbukti kokoh dalam kondisi krisis sekalipun.

"SELAMAT BERGABUNG DENGAN OMAH BLOGGER INDONESIA"

Bersama Kita Membangun Bangsa.

Jumat, 05 Juni 2015

Ingin Sukses Dalam Bisnis ? Tinggalkan 5 Hambatan Ini

Membangun bisnis itu menyakitkan. Gagasan ini membutuhkan kerja keras. Setiap orang punya kemampuan dan keahlian, tapi tak setiap orang bisa memulai sebuah bisnis. Mereka yang memiliki aspirasi kewirausahaan harus tahu bagaimana beratnya menciptakan sebuah bisnis. 

Tantangan terbesar bukan faktor eksternal seperti funding, coding, teknologi atau talenta. Hal-hal tersebut sesungguhnya bisa jadi menyenangkan jika kita melihatnya dengan benar. Tantangan terbesar justru dari internal seperti stres, ketakutan, dan keraguan.

Jika ingin memulai bisnis, kita harus melalui beberapa hambatan mental. Seperti apakah hambatan mental tersebut?

Saya bukan benar-benar pengusaha. Banyak orang mendefinisikan arti dari wirausaha. Banyak pula artikel berserakan di dunia maya yang mendefinisikan karakter seorang pengusaha. Dalam sebuah studi dari University of Illinois, Urbana-Champaign’s Academy, tentang Entrepreneurial Leadership, peneliti mengakui bahwa tak ada populasi wirausahawan yang terdefinisi dengan baik sehingga perbandingan dan generalisasi sangat berbahaya.

Perasaan ‘saya bukan benar-benar pengusaha’ hanya akan mendiskualifikasi kita padahal memulai bisnis saja belum. Kalimat yang sepatutnya diyakini ketika ingin memulai bisnis adalah ‘saya ingin memulai bisnis… menjual sesuatu, melakukan sesuatu, menemukan sesuatu, menciptakan, bermimpi dan bertumbuh.

Saya nggak bisa jualan. Memang salesperson diidentikan dengan pengusaha. Kemampuan itu harus dimiliki oleh pengusaha. Lalu, apakah jika kita tak pernah punya pengalaman dan kemampuan jualan bisa menjadi pengusaha sukses? Tentu. Kita tak perlu menjadi salesperson konvensional. Tetaplah bersemangat, jadilah ahlinya, bangun personal brand, dan jalin kerja sama yang tepat dengan mitra.

Saya tidak akan sukses. Kegagalan memang biasa terjadi, bahkan harus terjadi dalam dunia wirausaha. Maka, percayalah bahwa kita akan gagal, namun lawanlah kegagalan tersebut. Persiapkan segalanya dengan baik.

Saya tak begitu berharga. Terkadang para wirausahawan tak percaya diri karena merasa apa yang dimilikinya dalam hal bisnis dirasa kurang. Padahal dalam membangun bisnis, kepercayaan diri menjadi sebuah motivasi untuk membangun bisnis yang sukses.

Saya bukan pemimpin yang baik. Kewirausahaan adalah sebuah perjalanan. Ada orang-orang yang akan bergabung dalam perjalanan tersebut. Menumbuh kembangkan bisnis bukan soal seseorang menegaskan kepemimpinannya, tapi bagaimana bekerja sama bersama untuk mencapai kemajuan.

Intinya, jika kita ingin membangun sesuatu redamlah dulu hambatan-hambatan mental dalam diri kita.

Selasa, 27 Januari 2015

Indonesia Mendunia Dari Karya

www.omahbloggermagelang.com
Terlahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan tak lantas membuat Arfian Fuadi dan M Arie Kurniawan berkecil hati. Mereka justru punya mimpi besar. Tak ada yang menyangka, dua kakak beradik asal Salatiga, Jawa Tengah, ini sekarang sukses.

Mereka adalah tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK). Arfian lulus dari SMKN 7 Semarang pada 2005. Adapun adiknya, Arie, menamatkan sekolah di SMKN 3 Salatiga pada 2009.  Namun, passion bidang teknik melekat erat pada diri Arfian dan Arie. "Sejak kecil, kami menyukai hal-hal yang berbau desain," kata Arfian yang sempat menjadi penjual susu dan tukang tambal ban selepas lulus SMK ini.

Meski demikian, dulu dia tidak punya kesempatan untuk mendalami bidang desain secara formal. Arfian kerap meminjam komputer sepupunya untuk mengasah kemampuan desain. Tak jarang pula, dia menjelajahi dunia maya untuk belajar mengenai teknik desain.

Pada 2009, Arfian sempat bekerja di Kantor Pos. Dari seorang penjaga malam, dia dipercaya menjadi petugas di loket pengiriman surat. Dari pekerjaan itu, Arfian bisa menabung untuk membeli komputer bekas. "Dari tabungan terkumpul Rp 1,5 juta dan diberi tambahan uang dari ayah, hingga saya bisa beli komputer," ujarnya.

Bermodal komputer bekas itu, Arfian mendirikan perusahaan desain, Dtech-Engineering pada 2009. Dtech merupakan perusahaan desain mekanik. Lingkup bisnis mereka adalah mechanical engineering, mechanical designing, product design, serta finite element analysis.

Tak perlu menunggu lama, Dtech langsung mendapatkan klien yang berbasis di Jerman. Arfian mengatakan, tak sulit mendapatkan klien internasional. "Saya daftar di salah satu situs freelance, Elance.com. Lewat situs itu, semua perusahaan yang butuh tenaga desain bisa langsung menghubungi Dtech," kata dia.

Proyek pertama Dtech adalah  membuat desain komponen alat ukur perangkat medis. Dari proyek pertamanya, Dtech mendapat penghasilan 15 dollar AS, yang langsung terpakai untuk membeli software pendukung proses desain.

Tak hanya untuk mencari proyek, situs itu juga memungkinkan klien Dtech memberikan feedback. Jadi, calon klien bisa tahu kualitas pekerjaan Arfian dan Arie. Hal ini memungkinkan Dtech mengantongi referensi. Bahkan, klien bisa memberikan nilai kepuasan bekerja sama dengan Dtech.

Selama lima tahun berjalan, Dtech selalu mendapat nilai bagus dalam hal kualitas. Terbukti, customer satisfaction ranking perusahaan ini mencapai angka 4,98 dari 5. Elance.com sebagai situs freelance terbesar di dunia malah memberikan nilai 5 dari 5.

Di samping itu, sekitar 40 persen–60 persen klien Dtech merupakan repeat customer. Bahkan, Arfian dan Arie sering menolak proyek. Bukannya sombong atau pilih-pilih, penolakan itu karena proyek yang datang pada saat bersamaan terlalu banyak. Maklum, Dtech hanya tim kecil yang terdiri dari tujuh orang. "Dalam sebulan, ada sekitar 30–40 order yang terpaksa tidak diterima," tandas Arfian.

Sejauh ini, Dtech sudah melayani lebih dari 150 klien dari berbagai belahan dunia, seperti Amerika, Eropa, Singapura, Australia, dan Selandia Baru. Order yang diterima pun sangat beragam, mulai dari membuat gantungan kunci yang kecil sampai membuat sasis mobil dan ultralight aircraft.

Setiap bulan, Arfian biasanya mengerjakan 10 hingga 20 proyek. Namun, bila proyek yang dikerjakan berskala besar, mereka hanya menerima lima proyek. Tiap proyek desain dikerjakan dalam kurun waktu yang sangat beragam. "Ada proyek yang selesai dalam waktu beberapa jam, tetapi ada juga yang sampai setahun," ucap dia.

Kerja sama dengan klien tak hanya berdasarkan proyek. Arfian mengatakan, ada juga klien yang menerapkan sistem kontrak selama enam bulan. Tarif yang dipatok Arfian dan Arie saat ini sekitar Rp 175.000 atau sekitar 15 dollar AS–20 dollar AS per jam untuk tiap orang.

Tertipu klienBekerja sama dengan klien dari luar negeri disebut keduanya sebagai pengalaman menarik. Menurut pengamatan mereka, klien mancanegara lebih terbuka dan fleksibel.

Meski tak punya gelar akademik, klien tak pernah meremehkan karya mereka. "Klien tak mempermasalahkan ijazah, berbeda klien lokal yang masih memandang gelar," kata Arfian.

Namun, Arfian pernah punya pengalaman buruk soal klien. Lantaran komunikasi hanya lewat e-mail dan Skype, Dtech pernah ditipu klien dari Amerika. Pada 2012, mereka mendapat proyek untuk membuat pulpen berbahan aluminium. Mereka sudah mengerjakan 30 persen dari total 400 buah pulpen yang diminta. Namun, pesanan itu ternyata tidak dibayar.

Pengalaman pahit itu tak membuat mereka patah arang. Malahan, setelah kejadian itu, Arfian dan Arie semakin bersemangat mencari order baru. Tahun lalu, misalnya, Dtech dipercaya mengerjakan proyek serupa dengan tadi, yakni membuat pulpen eksklusif, dari bahan alumunium dan batok kelapa. Pulpen tersebut lantas terjual dengan harga 79 dollar AS–99 dollar AS per unit.

Dengan pencapaiannya ini, Arfian dan Arie tak pelit berbagi ilmu. Tahun ini, mereka mulai membuka kelas gratis untuk orang-orang yang punya minat serupa. "Kami sudah belajar banyak dari klien, jadi sekarang kami mau berbagi juga dengan anak muda lain yang tertarik bidang design engineering," kata Arfian.

Selain itu, masih ada mimpi yang ingin diwujudkan oleh Arfian, yakni melanjutkan kuliah. Alih-alih mengambil jurusan teknik atau desain, Arfian justru lebih tertarik mempelajari bisnis. "Kalau bidang yang sekarang bisa saya pelajari dari buku, internet, atau teman-teman. Tetapi, saya mau mendalami bisnis untuk membesarkan Dtech," tutur dia.  

"Ngetop" seusai mengalahkan lulusan Oxford
Meski sudah menggeluti bisnis desain mekanik sejak 2009, baru tahun ini nama Arfian Fuadi dan M Arie Kurniawan dikenal banyak orang. Kakak beradik ini tenar setelah memenangkan kompetisi 3D Printing Challenge yang diadakan General Electric, beberapa bulan lalu.

Arfian dan Arie berhasil merancang komponen pesawat jet generasi terbaru. Sebelumnya, berat komponen yang asli mencapai 2.033 gram. Mereka bisa mengurangi bobotnya menjadi hanya 327 gram.

Prestasi ini mencuat karena kompetisi itu diikuti oleh insinyur dari berbagai penjuru dunia. Arfian dan Arie keluar sebagai juara pertama mengalahkan seorang doktor dari Swedia dan lulusan Oxford University yang bekerja di perusahaan Airbus.

Alhasil, pencapaian itu membuat branding Dtech Engineering sebagai perusahaan berskala internasional makin mantap. "Karena ada juga klien yang datang karena tahu kami memenangkan kompetisi itu," ucap Arfian.

Banyak orang Indonesia menganggap seram pasar global. Padahal, menurut Arfian dan Arie, pasar global justru lebih menjanjikan. Kualitas menjadi modal untuk bertarung di pasar internasional. Lagi pula, bisnis di pasar global bisa dimulai dari partai kecil.

Arfian mencontohkan pengusaha furnitur yang mau mengekspor produknya. "Banyak pengusaha berpikir pasar luar itu susah, harus modal besar dan quality control yang ketat. Padahal, yang penting dimulai saja dari partai kecil," ujarnya.

Setidaknya, ada dua kunci sukses jika mau berbisnis di pasar global, yakni ide dan eksekusi yang bagus. Tren pasar global yang selalu berubah juga harus diikuti perkembangannya. "Kalau tentang desain atau manufaktur, bisa belajar secara otodidak. Tetapi, ide dan eksekusi ide itu hal mahal, yang tidak dimiliki semua orang," tutur Arfian.

10 Langkah Mengembangkan Produk / Jasa yang ‘Anda banget’

www.omahbloggermagelang.com
Waktu pertama kali menemukan passion saya dalam dunia kreatif dan sharing, hal pertama yang langsung saya hadapi bukan pertanyaan favorit se- RT, “Dari mana modalnya?”, tapi pertanyaan yang jauh lebih sederhana, “Apa yang mau saya jual?”

Tahu passion tidak berarti selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti Apa yang mau saya jual?, Apa yang mau orang beli dari saya?, Apa alasan orang mau datang jauh- jauh mengantarkan uangnya pada saya?, atau Apa istimewanya produk/ jasa yang saya tawarkan?

Ketika kita mau menjelma jadi passionpreneur, kita sedang menyulap hobi dan passion kita jadi sumber income. Untuk itu, kita harus bisa menjawab pertanyaan- pertanyaan ini!

Produk/ jasa yang Anda banget tidak boleh sekedar Anda doang yang suka. Orang pun harus suka atau membutuhkannya!

Berikut 10 tahap untuk mengembangkan produk/ jasa yang sesuai dengan passion Anda, yang Anda banget, dan tentunya, layak membuat orang lain merogoh koceknya untuk Anda!

1. Temukan Inspirasinya
Inspirasi untuk produk atau jasa yang anda banget, tidak sulit dicari. Anda bisa menemukannya di sekeliling Anda, di depan hidung Anda, atau bahkan di dalam kepala Anda! Perhatikan apa produk yang sudah ada tapi belum sempurna? Apa yang bisa membuatnya lebih unik? Apa yang dibutuhkan diri Anda dan kenalan Anda? Apa jasa dan produk yang Anda banget?

2. Masukkan Aktivitas Passion
Gunakan passion Anda sendiri untuk mengembangkan aktivitas dalam produk/ jasa ini. Apa passion Anda yang akan jadi aktivitas pendukung utama ini? Dan apa aktivitas yang akan menjadi aktivitas pendukungnya? Bagaimana passion Anda membuatnya jadi berbeda?

3. Bangun Konsepnya
Kembangkan secara lisan dan tulisan, konsep Anda untuk produk dan jasa ini. Bagaimana produk dan jasa Anda ini bisa membantu Anda dan kenalan Anda menangani keluhan yang ada? Bagaimana dia memperbaiki produk yang sebelumnya menjadi inspirasi dasar Anda? Bagaimana membuat keunikannya khas Anda banget?

4. Diskusikan Dengan Target
Coba bawa konsep ini ke target pengguna Anda, dan tanyakan, apakah mereka suka? Apa mereka mau membayar Anda untuk ini? Apa Anda sendiri mau membayar diri Anda untuk ini?

5. Bangun Prototype
Setelah mereka dan Anda sendiri tertarik, coba bangun prototype nya. Bila ini adalah produk, kembangkanlah produk contoh. Bila ini adalah jasa, kembangkanlah sesi- sesi dimana Anda bisa mempraktekkan jasa ini untuk contoh, dan mencoba konsepnya secara aktual.

6. Coba Pada 100 Orang
Coba dan tunjukkan, serta presentasikan produk atau jasa Anda pada 100 orang bila memungkinkan, dan catat setiap masukan atau informasi yang berguna dalam proses ini. Pssssttt, 70 persen kemungkinan mereka nantinya akan jadi pelanggan- pelanggan pertama Anda lho!

7. Perbaiki Sambil Jalan
Ketika produk atau jasa yang ‘Anda banget’ belum berhasil atau belum lancar, bukan berarti Anda harus berhenti. Tapi Anda harus mengubahnya dan menyesuaikannya dengan input yang ada, untuk membuatnya lebih baik lagi. Perbaiki dan ubah produk jasa Anda.

8. Luncurkan Produk dan Jasa Anda
Luncurkan dan umumkan keberadaan produk dan jasa Anda ke lingkungan seluas- luasnya yang bisa Anda capai. Sebarkan informasi ke target agar mereka tahu keberadaan produk/ jasa Anda. Pastikan produk dan jasa ini sesuai passion Anda, walau masih bisa terus dikembangkan.

9. Cari Partner dan Investor
Partner dan investor untuk mengembangkan produk dan jasa Anda akan membawa perkembangannya jauh lebih cepat! Pilih investor yang memiliki Passion yang sama dengan Anda, visi yang sama dengan Anda, atau mau memberikan kebebasan Anda berkreasi dengan produk Anda.

10. Terus Kembangkan, Perbaiki, Diversifikasi
Pengembangan produk dan jasa yang Anda banget ini tidak berhenti pada saat mulai dijual dan dibeli. Tapi harus terus dikembangkan dan diperbaiki, juga di- diversifikasi dalam berbagai varian lainnya, sambil jalan. Dan dalam jiwa Passionpreneurship, pastikan produk ini dan semua variannya, sesuai passion Anda, dan ‘Anda banget’!

Jadi, itulah 10 langkah untuk mengembangkan produk/ jasa yang ‘Anda banget’. Rahasia untuk sukses dalam melaksanakan kesepuluh langkah ini adalah komitmen!

Ingat salah satu prinsip passionpreneurship, “Sukses dalam karier itu kayak makanan all you can eat. Pilih yang Anda suka, selesaikan yang Anda pilih!”

Omzet Ratusan Juta Dari Bisnis Rempah Dapur

www.spiritindonesia.web.id
Menjadi pengusaha di usia yang masih relatif muda menjadi pilihan hidup Adi Pramudya. Pria berusia 22 tahun ini menentukan pilihan pada sektor agribisnis sebagai bisnisnya. Dia membudidayakan berbagai rempah dapur seperti lengkuas, kencur dan kunyit.

Laki-laki asal Pati, Jawa Tengah ini memiliki lahan untuk budidaya di Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Adi mencium peluang bisnis rempah-rempah yang masih cukup prospektif, ketika dia pada suatu waktu mengunjungi lahan pertanian di Bogor bersama kerabatnya. Lahan di daerah itu masih sangat luas dan banyak yang masih menganggur.

Dia lantas berpikir, ini bisa menjadi kesempatan yang luas bagi anak muda sepertinya. Sebab, saat ini tidak banyak anak muda yang melirik sektor agribisnis sebagai lahan bisnis.

Adi memulai usaha ini sejak tahun 2012. Lewat CV Anugrah Adi Jaya, dia memiliki lahan seluas 5 hektare (ha). Setiap ha lahan bisa menghasilkan 35 ton hingga 40 ton rempah. Setiap kali panen, dia bisa meraup omzet hingga Rp 300 juta.

Adi bilang, budidaya rempah-rempah ini terbilang mudah karena perawatannya tidak sulit dan kecil kemungkinan gagal panen. Tidak seperti budidaya singkong yang pernah Adi jalani sebelumnya. Walaupun budidaya singkong juga mudah, namun menurut Adi, harga singkong di pasaran tidak bersahabat.

Harga singkong di pasaran hanya Rp 700 per kilogram (kg). Dari penjualan hasil panen, dia hanya mendapatkan untung bersih sekitar Rp 5 juta. Namun hal itu tidak berlaku ketika dia beralih membudidayakan rempah-rempah. Dari situ, dia bisa meraup laba bersih berkali-kali lipat. Adi mengaku, dengan membudidayakan rempah-rempah tersebut, dia bisa mengantongi omzet Rp 70 juta per ha dengan profit 40 persen-50 persen.

Saat dia memulai membudidayakan rempah-rempah, Adi memilih menanam lengkuas karena tidak memerlukan modal telalu besar ketimbang jenis rempah lainnya. Usahanya berkembang cukup cepat. Dalam waktu dua tahun terakhir, Adi sudah menguasai pasar induk di seluruh Jabodetabek sebagai salah satu pemasok bumbu dapur jenis lengkuas.

Adi pun sudah berhasil menembus pasar ekspor luar negeri seperti Jerman dan Belanda. Waktu itu dia ekspor kencur dari kelompok tani bentukannya.

Pada musim panen di pertengahan tahun ini, Adi menargetkan bisa meraup omzet hingga Rp 750 juta. Ini karena luas lahan Adi sudah bertambah dari 5 ha menjadi 11,5 ha.  

Tahun 2014 merupakan tahun keberuntungan baginya. Sebab, pada tahun kemarin dia bisa memperluas total lahan yang dikelola menjadi 11,5 ha.  Sekitar 70 persen lahan ditanami lengkuas, sisanya ditanami tanaman kencur dan kunyit.

Pada pertengahan tahun 2015, Adi juga akan merambah menanam komoditas jahe. Tanaman ini memerlukan modal cukup besar. Untuk satu ha itu menghabiskan dana Rp 70 juta−Rp 80 juta. "Nanti kalau sudah punya bibit, saya perluas lagi," ungkap Adi.

Lewat usahanya ini, Adi pantas berbangga diri karena dia mampu membiayai kuliah sendiri sejak semester empat. Adi pun tetap bisa lulus kuliah tepat waktu.

Jumat, 23 Januari 2015

Raup Untung Puluhan Juta Dari Usaha Modifikasi "Body Kit" Mobil

www.omahbloggermagelang.com
Kontes modifikasi mobil yang kian waktu terus menunjukkan konsistensinya. Karena itu, bisnis seputar bodywork atau modifikasi mobil memiliki potensi bisnis yang menggiurkan.

Tak salah jika pemain baru maupun lama, sama-sama menumpahkan kreasinya demi meraup untung dibidang otomotif. Contohnya adalah modifikasi badan mobil dengan pemasangan komponen body kit.

Body kit merupakan komponen tambahan modifikasi yang dilekatkan atau dipasang pada bagian bemper depan dan belakang, serta badan mobil bagian samping. Peluang bisnis itu pun langsung dilirik oleh Syahrial Akbar. Berawal dari kecintaan dan hobinya di bidang otomotif, Akbar, sapaan akrabnya, melihat peluang bisnis yang menjanjikan dengan membuka bengkel modifikasi mobil body kit.

Pemilik bengkel modifikasi SBK Body Kit Innovation ini mengatakan, modifikasi mobil secara menyeluruh atau ekstrem tak hanya untuk keperluan kontes saja. Sebab, modifikasi badan mobil adalah karya seni. "Body kit itu kan bukan hanya untuk tujuan kontes saja. Itu kan kepuasan. Kalau punya kendaraan terus nggak dimodifikasi, kan rasanya ada yang kurang. Kalau udah didandanin, ngeliatnya juga eye catching," ujar Akbar, saat ditemui di bengkelnya, di wilayah Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Sebelum membuka bengkel modifikasi mobil body kit, dirinya sempat berjualan sepatu. Namun sambil berdagang sepatu, ia juga memajang contoh body kit di depan toko sepatu miliknya.

"Awalnya, saya punya tiga set body kit untuk kendaraan umum yang banyak orang pakai, terus saya pajang di depan toko sepatu. Kemudian saya berpikir untuk membuka toko khusus untuk body kit. Sudah setahun ini saya bisnis di bidang modifikasi mobil body kit," kata Akbar.

Soal omzet jangan ditanya. SBK Body Kit Innovation menawarkan dua jenis paket body kit, ringan dan custom. Untuk pengerjaan paket ringan, Akbar mematok harga sekitar Rp 2,5 juta per satu unit mobil. Dalam seminggu, ia mampu meraup pendapatan mencapai Rp 12.500.000. Dalam hitungan matematika, artinya dalam sebulan Akbar bisa mengantongi omzet sebesar Rp 50 juta.

"Saya nggak mau mematok harga yang telalu mahal, yang penting barang terjual cepat. Sehingga perputaran uang pun juga cepat," paparnya.

Menurut Akbar, modifikasinya disukai pelanggan karena memiliki ciri khas desain yang elegan. Apalagi, body kit yang dikerjakan untuk keperluan harian lebih simpel dan nyaman tanpa mengganggu fungsi berkendara.

"Pelanggan saya kebanyakan dari wilayah Jakarta, Bogor, dan sekitaran Puncak. Apalagi setelah bengkel saya dibuat rapih, semakin banyak konsumen yang datang," pungkas dia.

Jumat, 16 Januari 2015

Kreasi Aneka Puding Unik Untungnya Nikmat

www.danahibah.web.id
Salah satu desert yang populer di lidah masyarakat Indonesia adalah puding. Banyak pelaku usaha yang merasakan manisnya laba dari bisnis ini.

Untuk menarik minta konsumen, belakangan banyak dari mereka berusaha menampilkan produk puding dalam berbagai bentuk serta warna yang menarik dan lucu.

Seperti dilakukan kakak adik Adrian Christopher Agus  dan Eugenia Christopher Agus. Di bawah bendera Puyo Dessert, mereka merintis bisnis ini sejak Juli 2013. Sejak awal merintis usaha, mereka sudah kepikiran untuk membuat puding dengan kamasan atau packaging lucu dan unik.

Ide itu didapat setelah maraknya postingan makanan lucu di sosial media. Dengan modal awal Rp 5 juta, mereka langsung melakukan eksperimen.

Produksi awal dicoba dulu ke keluarga dan teman-temannya. Setelah mendapat banyak komentar positif, keduanya percaya diri untuk menjual produk mereka melalui Instagram.

Selain bentuknya unik dan lucu, Puyo juga berbeda dengan puding lainnya, terutama bahan dasar dan rasanya. Antara lain tidak menggunakan susu hewani, tapi susu nabati yang lebih sehat.

Selain itu, Puyo juga menawarkan rasa-rasa tak biasa, misalnya ubi ungu, permen karet, pisang, teh hijau, stroberi, cokelat, mangga, dan hazelnut yang disajikan dengan warna puding yang menarik dan berbeda satu sama lain. "Total ada  sembilan varian rasa," kata Adrian.

Lantaran warna, rasa, dan packaging-nya unik dan menarik, Puyo pun laris diburu anak muda. Namun, karena pembeliannya secara online, beberapa konsumennya merasa keberatan untuk menerima delivery makanan.

Akhirnya Puyo rajin mengikuti bazar makanan. Saat ini, Puyo sudah memiliki enam gerai di mal-mal yang berlokasi di Jakarta dan Tangerang.

Dalam sehari, produksi Puyo bisa memproduksi lebih dari 3.000 cup untuk dikirim ke berbagai konternya. Puding tersebut dijual dengan harga Rp 12.500 per cup. Dari bisnis puding ini, Adrian dan Eugenie bisa meraup omzet ratusan juta per bulan.

Pemain lainnya adalah Susan, pemilik Soft Pouding di Tangerang ini. Soft Pouding memiliki 12 varian rasa, sepetri ubi ungu, bubble gum, hazelnut, lychee, oreo, green tea, dark choco, mango, peach, dan stroberi.

Untuk melebarkan usahanya, Sudan menawarkan sistem kemitraan. Saat ini, mitra usahanya sudha tersebar di di berbagai kota, seperti Jabodetabek, Pekanbaru, Bali, dan Makassar. “Saya pakai sistem mitra, jadi konsumen yang ingin membeli bisa langsung ke mitra terdekat. Saya hanya menerima orderan mitra, bukan eceran,” tutur Susan.

Dalam sehari, rata-rata Susan memproduksi 400 cup, dengan harga jual Rp 12.500. Omzetnya mencapai Rp 150 juta per bulan. 

Dapat Uang Dari Jalan-jalan

Jaman Sekarang ini, liburan lebih murah.Liburan memang sudah enggak lagi semahal dulu, banyak pilihan kemana kita suka dan yang paling oke "fasilitas lebih memanjakan kita".

Ada satu hal lagi yang tak kalah menarik dan sangat penting, yaitu "Liburan Dapat Gaji". Mau ....?

Tentu mau banget donk......Ayo simak pemaparan di bawah ini.

Liburan ternyata tidak lolos dari sentuhan tangan kreatif para passionpreneurs! Liburan ternyata bisa jadi profesi!

Kalau Anda termasuk orang- orang dengan passion jalan- jalan, dan ingin merasakan asyiknya ‘liburan dan dibayar’, berikut beberapa contoh profesi yang bisa mengabulkan mimpi Anda:

1. Travel Blogger
Inilah profesi salah satu teman kuliah saya sekarang. Sebagai travel blogger, liburan adalah profesinya! Mengulas tempat liburan dari atas bawah kiri kanan depan belakang, di blognya, di social medianya, dan beberapa media partner dimana dia menjadi kontributor.
Sumber pendapatan: sponsor, pengiklan, Google Adsense, dan fee pembicara di seminar dan media.

2. Travelling Photographer
Buat Anda yang suka jalan- jalan sambil jeprat jepret sana sini, dan punya skill fotografi yang cukup mumpuni, Anda mungkin bakal tertarik sama profesi yang satu ini. Sambil liburan, buru obyek- obyek foto keren, foto sebanyak- banyaknya, dan jual hasil foto Anda untuk dana liburan lagi!
Sumber pendapatan: jual foto ke majalah travel, ke berbagai situs Photostock, atau via situs seperti www.smugmug.com. Atau jadikan portofolio untuk jasa fotografi Anda lainnya.

3. Travel Book Author.
Gunakan kisah perjalanan Anda sebagai bahan buku tentang travelling, yang lagi naik daun beberapa tahun belakangan ini. Anda bisa bikin buku tentang petualangan Anda di negara lain, bisa bikin guidebook yang memberi saran buat para pelancong pemula, tips travel murah, dan banyak lagi.
Sumber pendapatan: royalti buku, fee pembicara di seminar dan media- media.

4. Pedagang Barang Khas Antar Negara
Salah satu peserta seminar saya pernah menghasilkan uang dari profesi ini tanpa sengaja. Ketika dia pergi ke Spanyol, dia membawa beberapa batik sebagai oleh- oleh untuk kenalannya di sana, yang ternyata laku mahal di negara itu. Dan sebaliknya, ketika pulang ke Indonesia, ia menjual beberapa barang khas Spanyol yang dibelinya di sana, dengan profit yang lumayan besar!
Sumber pendapatan: Selisih dan mark up harga dari setiap barang yang dijual.

5. Tour Guide dan Travel Consultant
Sebagai tour guide, tugas Anda adalah menemani orang jalan- jalan. Dan sebagai travel consultant, tugas Anda adalah memberikan saran terbaik untuk kebutuhan liburan mereka. Syaratnya? Anda harus punya wawasan dan pengetahuan yang kuat tentang tujuan wisata itu.
Sumber pendapatan: Fee dan honor.

6. TV Show Host untuk Travel Show
Nah, kalau Anda adalah tipe narsis yang juga banci tampil kayak saya, *ehem* atau Anda punya akses ke media TV, maka berjuanglah untuk mendapatkan acara TV untuk travel Anda sendiri. Di profesi ini, Anda benar- benar jalan- jalan dibayar.
Sumber pendapatan: fee atau gaji dari stasiun TV.

7. Travel YouTuber
Nah, bagaimana kalau Anda enggak punya akses ke TV Nasional? Ada cara yang lebih gampang. Jadilah YouTuber Travel! Bikin YouTube show Anda sendiri tentang liputan wisata Anda ke berbagai tempat keren, dan bangun audience Anda!
Sumber pendapatan: pengiklan, YouTube Partner Program, fee pembicara seminar.

Jadi itulah beberapa contoh profesi yang bisa bikin Anda merasakan nikmatnya dibayar untuk berlibur! Bagaimana? Apa ada yang cocok untuk Anda? Apa Anda tertarik untuk mencobanya? 


Kalau Anda punya ide atau passion berbeda yang ingin Anda coba jadikan profesi, mungkin Anda bisa memakai beberapa konsep profesi di atas sebagai ide di dalam passion Anda sendiri!

Yang pasti, kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu bisa atau tidaknya sesuatu kan? Selamat menikmati liburan Anda! Semoga suatu hari Andapun bisa dibayar untuk berlibur!

Rabu, 14 Januari 2015

Jalan Menjadi Kaya Bagi Passionpreneur


Hidup adalah perjalanan, yang penuh dengan pilihan- pilihan jalan. Dan namanya juga ‘pilihan’, artinya tidak ada pilihan yang benar-benar saltot alias salah total.

Setiap pilihan akan datang bersama dengan keuntungan, kekurangan, dan konsekuensinya sendiri- sendiri. Misalnya, dari Jakarta mau ke Bandung. Musti lewat mana dan pakai apa yang paling ‘tepat’? Tentu yang disebut pilihan yang ‘tepat’ itu sendiri sangat tergantung pada proses yang mau kita lewati.

Mau sangat cepat dan tidak perduli pemandangan? Pakai pesawat aja. Mau cepat, tapi mau sambil menikmati cemilan bin melihat kiri kanan? Pakai mobil, lewat tol Cipularang. Mau santai, melihat pemandangan bukit, beli gulali, dan serasa piknik? Lewat puncak deh. Mau instan, merem, dan pas melek mendadak sudah sampai di Bandung? Nah ini sih sepertinya musti pake jin.

Dan masing- masing pilihan jalan ini ada konsekuensinya sendiri- sendiri. Pakai pesawat, mahal. Pakai mobil lewat tol, siap- siap macet di akhir minggu. Mau lewat puncak, siap- siap terlambat sampai di Bandung, dan keserempet di tanjakan. Mau pakai jin, siap- siap masuk neraka.

Hal yang sama, juga ada dalam dunia kerja dan karier!

Ada tiga pilihan jalan yang bisa diambil seorang passionpreneur, dan tidak ada jalan yang ‘paling’ baik, ‘paling tepat’, atau ‘paling benar’, karena semuanya bisa bikin kaya dan sukses. Tinggal apa tujuan kita, dan bagaimana keinginan kita untuk menjalani prosesnya.

Ketiga jalan itu adalah jalan Akademik, jalan Profesional Mandiri, dan jalan Bisnis. (A|P|B)

Jalan Akademik, adalah profesi- profesi di mana nilai gaji/ pendapatan finansial Anda dan jenjang karier Anda ditentukan secara dominan oleh strata akademis Anda. Makin banyak “S” yang Anda punya, dari S1, S1, S1, sampai S campur, makin besar kemungkinan Anda untuk mendapatkan posisi karier yang tinggi, meningkatkan jenjang karier, dan mendapatkan gaji besar.

Profesi- profesi dalam jalan ini, termasuk pekerja kantoran, karyawan pada umumnya, manager, atau Profesional Akademis seperti dokter, pengacara corporate, dan lainnya.

Jalan Profesional Mandiri, adalah profesi- profesi di mana pendapatan finansial Anda biasanya bersifat honor/fee. Ditentukan secara dominan oleh skill, jaringan, dan kompetensi Anda dalam memberikan jasa atau mengirimkan jasa dan produk yang Anda tawarkan ke tangan klien. Makin besar kredibilitas, kualitas, dan skill, serta jaringan Anda, semakin baik bayarannya, dan semakin cepat karier di profesi ini akan melangit.

Profesi- profesi dalam jalan ini termasuk, freelancer, designer lepas, konsultan, public speaker, MC, penyanyi, penulis, dan sebagainya.

Jalan Bisnis, adalah profesi di mana pendapatan finansial Anda adalah profit, dan merupakan hasil dari sistem organisasional yang baik, dalam menjual produk atau jasa. Biasanya ditentukan secara dominan oleh sistem usaha, sistem kerjasama, produk dan jasa, kemampuan negosiasi, dan sistem manajemen organisasional. Profesi di jalan ini adalah para pengusaha.

Mana jalan yang paling ‘bagus’ dan paling ‘benar’?

Orang kantor bakal bilang, “Jalan akademis doong, soalnya stabil dan lebih aman”. Freelancer bakal bilang, “Jalan professional mandiri doong, soalnya bebaaas, freedom of time”. Orang bisnis bakal bilang, “Jalan bisnis doongg, soalnya potensi income pasif- nya tidak ternilai!”
Dan saya bakal bilang, “Semuanya benaar dooong. Tinggal Anda maunya yang mana?”

Jalan akademik relatif lebih aman dan stabil. Semuanya lebih ‘pasti’. Anda bakal tahu persis kapan uang masuk, berapa jumlahnya, dan tanggal berapa dapur ngebul. Konsekuensinya? Diantaranya adalah kurangnya kebebasan waktu.

Jalan profesional mandiri relatif lebih bebas dalam waktu, bebas berkarya, dan bebas dalam memilih pekerjaan dan proyek. Anda adalah bos diri Anda sendiri. Konsekuensinya? Diantaranya adalah ketidakjelasan income. Kadang bisa banyak proyek dan dompet tebal, kadang bisa rindu order sampai Anda sering silaturahmi ke rumah saudara untuk numpang makan.

Jalan bvisnis relatif lebih besar potensinya dalam menghasilkan dan membuka pintu pendapatan finansial. Khususnya memiliki potensi untuk menciptakan income pasif. Konsekuensinya? Tidak ada yang pasti, dan resiko relatif lebih tinggi dibanding kedua jalan lainnya. High risk, high return.

Jadi jalan mana yang Anda pilih? Suka dan mengutamakan keamanan? Mungkin lewat jalan akademik dulu. Suka dan mengutamakan kebebasan waktu? Bangunlah profesi Anda di jalan profesional dulu. Suka resiko dan berani hidup dalam ketidakpastian demi income pasif? Bangun jalan ideal Anda di dunia bisnis!

Kalau passion Anda fotografi misalnya, Anda bisa jadi fotografer yang bekerja di kantor (Akademik), fotografer freelance dengan personal brand (Profesional Mandiri), atau membangun studio fotografi (Bisnis). Anda bisa tetap hidup sesuai passion Anda, di manapun jalan yang Anda pilih!

Yang harus ditekankan, bahwa passionpreneurs adalah mereka yang selalu menciptakan potensi dari passion mereka. Artinya, yang manapun jalan pilihan Anda, pastikan Anda membangun karier sesuai passion dan dalam profesi yang Gue Banget.

Passionpreneurs harus dengan jiwa kreatif, mendorong batasan- batasan profesinya lebih jauh, lebih luas, dan lebih baik dari kondisinya saat ini!

Minggu, 04 Januari 2015

Waralaba Makanan Lebih Menggiurkan

www.omahbloggerindonesia.comBisnis waralaba atau franchise diprediksi masih akan berkibar tahun depan. Tingginya tingkat konsumsi domestik menjadi penopang utama perkembangan bisnis waralaba di tanah air. Apalagi, saat ini, pertumbuhan kelas menengah di tanah air terus menanjak dan daya beli masyarakat terus tumbuh. Faktor ini jelas menjadi pasar yang sangat potensial bagi perkembangan bisnis waralaba. 

Memang, dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masih akan terasa pengaruhnya tahun depan. Bukan saja berdampak terhadap daya beli masyarakat, kenaikan BBM juga mengerek harga bahan baku. Kondisi ini akan memengaruhi bisnis waralaba, terutama sektor makanan atau food and beverage (F&B).

Namun, menurut Amir Karamoy, Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kadin, pengaruhnya tidak signifikan terhadap bisnis waralaba. "Prospeknya masih bagus," kata Amir. 

Lantaran peluangnya masih terbuka lebar, banyak pengusaha tetap gencar menawarkan waralaba. Menurut Amir, ada beberapa sektor usaha waralaba yang memiliki prospek cerah di tahun depan. "Yang paling unggul tetap sektor F&B," ujarnya. 

Sektor lain yang peluangnya masih menjanjikan adalah sektor kesehatan, salon, travel, ritel, dan pendidikan. Sektor-sektor ini masih akan berkembang dan diserbu pemain, baik asing maupun lokal. 

Makanan
Peluang bisnis makanan memang masih sangat menjanjikan. Menurut Amir, sektor ini tidak pernah redup karena selalu dibutuhkan manusia. Salah satu waralaba asing yang sukses merambah bisnis kuliner di Indonesia adalah PT Indo Bangi Kopitiam  asal Malaysia.

Pemilik brand Bangi Kopitiam ini resmi masuk Indonesia pada 2011. Di negara asalnya, perusahaan ini berdiri sejak 2006. 

Hingga saat ini, Bangi Kopitian sudah memiliki sekitar 48 mitra yang tersebar di Jakarta, Medan, Palembang, Jambi, Bali, Surabaya, Semarang, Makassar, Palu, Banjarmasin, dan Balikpapan. 

Direktur PT Indo Bangi Kopitiam, Tjhong Yono, selaku master franchise Bangi Kopitiam di Indonesia mengatakan, Bangi Kompitim semakin berkembang karena gencar berinovasi. Antara lain rajin membuat menu makanan baru sesuai dengan selera lidah orang Indonesia. 

Ia optimistis, bisnisnya terus berkembang karena prospek bisnis F&B masih menjanjikan. Itu juga yang mendorong Bangi Kopitiam tetap gencar meluncurkan menu baru. "Kami terus memperbarui menu, setiap enam bulan sekali meluncurkan lima sampai 10 menu baru," ujarnya. 

Selain gencar meluncurkan menu baru, pihaknya juga terus melakukan pembaruan standar operasional prosedur (SOP) demi mempertahankan kualitas produk dan layanan. Ia menargetkan, jumlah gerainya genap 50 sampai akhir tahun ini. "Tahun depan kami targetkan tambah menjadi 65 gerai di seluruh Indonesia," katanya. 

Untuk mencapai target itu, ia gencar melakukan promosi lewat media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan iklan di media massa. Sampai saat ini, paket investasi Bangi Kopitiam masih dihargai Rp 1,4 miliar.

Gurihnya pasar kuliner ini juga turut dirasakan pemain lokal. Salah satunya adalah PT Indoboga Makmur Pratama, pemilik brand Kuch2hotahu asal Kudus, Jawa Tengah. Saat ini, Kuch2hotahu sudah memiliki 1.000 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia.

Iwan, marketing Kuch2hotahu juga optimistis bisnisnya masih akan tumbuh di tahun depan. Namun, ia melihat tantangan di tahun depan cukup berat. Persaingan semakin ketat menyusul diterapkan MEA. 

Untuk mengantisipasi itu, ia akan membenahi SOP agar kualitas tetap terjaga. Dari segi produk, ia juga menyiapkan menu-menu baru agar konsumen tidak bosan. Selain makanan olahan tahu, mulai 2015 akan ada menu lain seperti nasi goreng. 

Ritel
Pengamat waralaba, Anang Sukandar mengatakan, bisnis waralaba di sektor ritel juga bagus. Menurut Anang, bisnis minimarket layak masuk dalam daftar pilihan usaha, selain sektor makanan. Keuntungan waralaba minimarket sangat jelas dan perputaran uangnya juga cepat.

Bagi yang tertarik terjun di sektor ini sebaiknya melirik pemain lama yang sudah eksis. Kata Anang, pemain lama seperti Indomaret bisa menjadi pilihan. "Laju pertumbuhan bisnis waralaba Indomaret sangat cepat, transaksi di gerai Indomaret di seluruh Indonesia hingga puluhan juta struk per bulan," ujarnya. 

Ritel yang bernaung di bawah brand PT Indomarco Prismatama ini bisa dibilang pelopor di industri waralaba minimarket. Berdiri tahun 1988, Indomaret resmi menawarkan waralaba tahun 1997. Saat ini, gerainya sudah ada 10.600 di seluruh Indonesia. 

Wiwiek Yusuf, Direktur Marketing PT Indomarco Prismatama menyampaikan, dari jumlah gerai itu, sekitar 60% milik sendiri dan sisanya milik mitra. Bagi Wiwiek, perkembangan pesat yang dialami Indomaret tidak lepas dari konsistensi yang dijalani. "Apalagi sekarang sistemnya sudah berjalan baik. Jadi mudah bagi calon mitra untuk mengadaptasi sistem kami, " kata Wiwiek.

Menurut Wiwiek, saat membuka tawaran waralaba, PT Indomarco harus menunggu 10 tahun dulu untuk memastikan apakah sistem berjalan baik.  "Dulu kami buka 200 gerai dulu baru berani buka franchise. Kalau sekarang yang saya lihat banyak perusahaan yang baru buka dua tiga gerai sudah berani buka franchise, " kata dia.
Menurut Wiwiek, peluang waralaba minimarket masih bagus, terlebih Indomaret fokus menjual barang kebutuhan sehari-hari yang tak pernah sepi permintaan. Ia mengklaim, waralaba Indomaret layak dilirik karena memiliki rekam jejak baik. Wiwiek bilang, rata-rata omzet gerai Indomaret mencapai 10 juta per hari. Ada pun nilai investasi gerai berbeda-beda, dengan kisaran Rp 400 juta-Rp500 jutaan.

Selain Indomaret, banyak juga pemain baru di sektor ini yang menawarkan kerjasama kemitraan. Salah satunya PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang mengusung brand Waroeng Rajawali. Berdiri Februari 2013,  Waroeng Rajawali resmi menawarkan kemitaraan November 2013.

Ismed Hasan Putro, Direktur Utama RNI menyampaikan, saat ini gerai Waroeng Rajawali yang sudah beroperasi ada 200. Sebagai pendatang baru, ia optimistis bisnisnya terus tumbuh. "Di tahun 2015 kami menargetkan jumlah mitra hingga 500 gerai," kata Ismed.

Ismed bilang, RNI sudah melakukan riset untuk melihat potensi pasar. Hasilnya, respon masyarakat cukup positif terhadap kemunculan Waroeng Rajawali. Menurutnya, kelebihan Waroeng Rajawali adalah fokus menjual produk lokal skala industri kecil menengah (IKM).

Laundry & Salon
Pengamat waralaba, Erwin Halim menilai, bisnis laundry termasuk salah satu sektor waralaba yang masih menjanjikan tahun depan. Bahkan, ia melihat, prospek bisnis ini kian baik karena jasa laundry semakin dibutuhkan, terutama di kota-kota besar. "Melihat supply dan demand seperti sekarang ini, artinya di tahun 2015 prospeknya semakin baik," ujar Erwin. 

Menurut Erwin, ada banyak pengusaha laundry yang sukes mengembangkan bisnis lewat kerjasama waralaba. Salah satunya: Melia Laundry & Dry Cleaning asal Yogyakarta. Usaha laundry dibawah naungan PT Melia Pilar Utama (Melia Group) ini  sudah mulai menawarkan waralaba sejak 1997. 

Fen Saparita, Direktur Utama Franchise Melia Laundry & Dry Cleaning, mengatakan, saat ini Melia Laundry sudah memiliki 83 gerai dan 417 konter yang merupakan bagian dari jaringan gerai. Tiga gerai milik pusat di Yogyakarta dan Jakarta. Sedangkan sisanya milik mitra. 

Gerai dan konter yang dimiliki oleh mitra tersebut tersebar di seluruh Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Bali. Bagi Fen, pesatnya perkembangan Melia laundry tak lepas dari beberapa hal yang telah dilakukan, seperti pemasaran, hubungan baik dengan mitra, tim yang baik, hingga evaluasi secara periodik.

Fen menjamin, Melia Laundry merupakan bisnis yang memiliki prospek bagus di tahun mendatang. Hal ini dikarenakan sistem yang telah teruji dan balik modal yang menurutnya terbilang cepat, yaitu 2 tahun sampai 2,5 tahun. "Proteksi area yang bisa meliputi satu kota satu mitra merupakan salah satu keuntungan mitra. Tidak seperti bisnis waralaba lain dimana area proteksi hanya beberapa meter atau kilometer saja," jelas Fen.

Bisnis salon kecantikan juga akan tetap ciamik di tahun Kambing Kayu. Yulia Astuti, pemilik usaha salon muslimah dengan brand Moz5 Salon mengatakan, potensi bisnis salon muslimah tahun depan semakin baik. Pasalnya, jumlah pemakai hijab semakin besar dan mereka membutuhkan salon muslimah untuk mendukung penampilannya.

Lantaran peluangnya semakin terbuka, Yulia gencar melakukan ekspansi. Bahkan tahun depan, ia berencana merambah mancanegara, terutama negara tetangga. Ia menargetkan, bisa menambah tujuh outlet di Indonesia dan enam di mancanegara. Untuk menggapai target tersebut, ia banyak mengikuti pameran.

Sejak menawarkan waralaba pada tahun 2004, gerai salon asal Bekasi, Jawa Barat ini kini sudah menggandeng 19 mitra di berbagai daerah.

Kamis, 01 Januari 2015

Memilih Bisnis Waralaba Harus Teliti dan Cermat

Tahun 2015 bakal menjadi tahun yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi para pengusaha lokal, baik pebisnis berskala besar maupun para pelaku usaha Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Sebab, pada saat itulah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan bergulir. Ini merupakan kesepakatan antara Indonesia bersama dengan sembilan negara ASEAN lainnya membuat pasar tunggal. Dengan begitu, kebijakan ini memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara lain di seluruh Asia Tenggara.

Pada satu sisi, ini bisa menjadi peluang bagi pengusaha lokal untuk ekspansi usaha ke luar negeri. Namun, serbuan produk dan jasa ke dalam negeri juga bisa menjadi ancaman serius jika para pengusaha lokal tidak memiliki daya saing yang kuat. 

Tentu, harapannya Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri yang juga mampu merangsek pasar internasional. Nah, agar bisa memiliki dasar bisnis yang kuat, khususnya di sektor usaha yang bersistem waralaba, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan.

Bije Widjajanto, Pengamat Waralaba dari Ben WarG Consulting Franchising and Business mengatakan, sebelum memutuskan untuk membeli sistem bisnis dan menggunakan merek dagang lewat sistem waralaba, pertama,  calon investor harus aktif mencari informasi kepada mitra usaha yang sudah lebih dulu bergabung.

Ini penting untuk mengetahui apakah bisnis yang dibeli menguntungkan dan layak dijalankan. Tahapan ini bisa dibilang sebagai seleksi awal membeli waralaba. Kedua, cari tahu komitmen pemilik waralaba (pewaralaba) terkait komitmen mereka dalam membesarkan usaha dan mendukung para mitra usahanya.

Ketiga,   cermati target pasar yang dituju berikut juga dengan pemilihan lokasi usaha nantinya. Selain mempersiapkan diri untuk pasar lokal, persaingan waralaba di pasar bebas tahun depan pun akan makin sengit dengan mulai diberlakukannya MEA.

Amir Karamoy, Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi KADIN, mengatakan, pewaralaba dari negara-negara ASEAN sudah ancang-ancang akan masuk ke Indonesia, seperti Thailand dan Filipina. Sebagian besar, waralaba asing ini agresif menyasar sektor food and beverages (F&B).

Cermati aspek keuangan

Ini membuat persaingan bisnis kuliner dipastikan kian ketat. Apalagi karakter masyarakat Indonesia terbilang mudah menerima produk asing. Namun Bije  menilai, waralaba asing tetap punya kelemahan, yakni soal harga jual.

"Mayoritas harga jual produk dari waralaba asing akan lebih mahal. Ini bisa menjadi celah bagi waralaba lokal untuk mengambil kesempatan ceruk pasar," kata Bije.

Untuk memilih sektor usaha, Hefni Tri Sriyantono, pengusaha kuliner Nasi Gandul Mas Tri berpendapat, calon pengusaha ada baiknya mememulai bisnis  dari sesuatu hal yang disukai. Ini penting agar pemilik usaha nantinya bisa bertahan sekalipun dalam kondisi sesulit apapun.

Bije menambahkan, saat ini modal untuk ekspansi bukan lagi menjadi masalah utama bagi pengusaha untuk memulai bisnisnya. Apalagi, konsep waralaba sejatinya adalah mengumpulkan modal masyarakat untuk melakukan ekspansi.

Selain itu, dukungan dana juga datang tidak hanya dari industri perbankan yang siap mencairkan dana untuk menyokong bisnis waralaba yang sebagian berasal dari pelaku UMKM, tapi lembaga keuangan BUMN seperti: PT Permodalan Nasional Madani Persero (PNM), Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), hingga fasilitas kredit Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) dari Kementerian Koperasi dan UMKM bisa dimanfaatkan.

Menurut Amir dalam bukunya berjudul Percaturan Waralaba Indonesia, mengacu pada UU No 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, prinsip kerjasama usaha dalam sistem waralaba harus memperhatikan prinsip saling memerlukan, memperkuat dan saling menguntungkan.           

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang lebih mendetil yang perlu diperhatikan agar sistem waralaba ini bisa memberi keuntungan optimal bagi investor.

Pertama adalah aspek keuangan. Dalam waralaba, penting mengetahui hitung-hitungan franchise fee, biaya investasi dan return of investment (ROI). Semua ini diperlukan agar investor mengetahui waktu seberapa lama dana investasinya bisa kembali.

Kedua adalah perhatikan pula biaya sewa tempat usaha. Tidak jarang biaya sewa tempat membuat biaya operasional membengkak. Itu artinya akan membuat waktu ROI akan semakin panjang. Terkadang, perawaralaba lokal tidak memasukkan unsur ini dalam perhitungan simulasi usaha yang mereka buat sendiri.

Ketiga adalah mencermati sistem franchise fee dan royalty fee, apakah bisa dibayar bertahap atau dicicil tiap bulan. Keempat adalah, calon investor juga harus melihat biaya lain-lain seperti advertising fee atau training fee yang akan dibebankan kepada mitra. Pos pengeluaran ini tentu akan mempengaruhi perhitungan usaha waralaba si investor.

Kelima, perjelas mengenai bahan baku utama yang harus dipasok dari pusat. Biasanya pewaralaba bonafid hanya mengharuskan membeli bahan baku utama tertentu saja yang kualitasnya sudah baku. Atau karena bahan baku tersebut tidak dijual di pasar bebas. Terakhir yang juga penting, cermati jangka waktu kerjasama, ketentuan hak dan kewajiban tiap pihak serta aspek legalitas perjanjian kerjasama usaha.  


Sumber : Kontan

Kamis, 25 Desember 2014

Keliling Dunia Dari Hobi

Mengawali usaha sebenarnya sangat simpel dan tak perlu berbelit-belit dengan aneka macam pertimbangan.

Ya, mengawali usaha dari hobi atau kesukaan yang kita miliki, tentulah tidak perlu ribet. Jadi, mengalir begitu saja.

Nampaknya, itulah  yang dilakukan Aan Soekardi, seorang fashion designer saat awal membuka usaha yang membesarkan namanya di Surabaya. Bahkan dia dikenal hingga mancanegara, karena karya-karya yang dibuat dengan tangan dinginnya.

“Hobi berarti sesuatu yang kita sukai, kita tidak akan bosan dan menyenangi profesi yang kita jalankan,” uangkapnya.

Sebagai fashion desaigner, ia adalah seorang pekerja keras, ulet dan selalu banyak ide-ide cemerlang. Menurutnya ide bisa didapat dari mana saja, terutama dari pengalaman. “Kita bisa kaya ide, atas pengalaman dari profesi yang kita geluti dengan sungguh-sungguh”, tegasnya.

Aan Soekardi memiliki Boutique yang beralamatkan di Jl. Gayung Kebonsari IX / 32 Surabaya, dan dalam berkarya, ia sering menghabiskan waktu di lokasi workshopnya di Jl. Ketintang Baru XII/  5 B.

“Kita harus produktif,” ujar pemilik situs www.aansoekardi.com, yang juga senang melakukan berbagai aktivitas bisnis bersama mitra kerjanya.

Keliling Dunia
Hobi yang dikerjakan Aan, sungguh bukan main-main. Dari hasil kerja kerasnya, ia bisa berkeliling dunia sambil mengenalkan produknya. Bahkan dari hobi pula, dia menyelesaikan pendidikannya di Berlin – Jerman, yaitu di Lette Verein Mode School.

“Aku selalu menikmati hasil kerjaku untuk travelling, banyak hal yang bisa didapat dari travelling. Ide, pengalaman dan pembelajaran akan hidup”, kata Aan.

Sejak kecil, Aan memang bercita-cita berkeliling dunia. Ayo siapa yang mau nyusul, dari hobi bisa keliling dunia. Yang pasti rejeki juga selangit.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com